April 22, 2024

Mengenal Pengertian dan Penyebab Generasi Sandwich

Sesuai dengan perumpamaannya sendiri, generasi sandwich mengibaratkan seseorang sebagai sepotong sandwich. Dimana, sepotong sandwich pada umumnya terdiri dari dua lapis roti tawar serta daging yang diapit oleh kedua potong roti tersebut. Disini seorang generasi sandwich terjebak menjadi ‘daging’ yang diapit dalam dua lapis roti. Roti tawar yang terdapat di atas daging tersebut ialah orang tua, sedangkan roti lapis di bawah ialah keluarga yang dapat berupa pasangan ataupun anak.

Dapat disimpulkan bahwa generasi sandwich merupakan seseorang yang harus menanggung biaya kehidupan dari orang tua, pasangan, serta anak mereka sekaligus. Mereka memiliki tanggung jawab ganda atas finansial kedua belah pihak. Oleh karena tanggung jawab yang besar tersebut, kebanyakan dari para generasi sandwich sulit untuk memenuhi kebutuhan pribadi mereka. Hal ini menyebabkan perencanaan keuangan untuk masa mendatang pun akan terhambat.

Penyebab dari generasi sandwich sendiri dapat ditimbulkan oleh adanya perubahan ekonomi dan kurangnya persiapan akan keuangan di masa depan. Dimana, perubahan ekonomi yang melanda masyarakat saat ini membuat kenaikan biaya hidup yang signifikan, kejadian ini juga diselingi dengan ketersediaan sumber daya keuangan yang kian terbatas. Perubahan ekonomi ini turut dirasakan berdampingan dengan gagalnya finansial serta kurangnya rencana keuangan ketika masa orang tua. Hal ini tentu dapat memicu berlangsungnya rantai generasi sandwich ke generasi berikutnya.

Dampak dari Generasi Sandwich

1. Kondisi Mental yang Tidak Stabil

Dikarenakan tingginya tuntutan akan pengeluaran, seorang generasi sandwich memiliki peluang yang tinggi untuk mengalami burnout serta stres berlebih. Hal yang menjadi pemicu lainnya ialah, para generasi sandwich tidak mampu untuk memenuhi kebutuhan mereka sendiri, dikarenakan banyaknya prioritas yang harus dipenuhi selain keinginan dirinya. Bilamana hal ini menjadi beban dalam waktu yang cukup lama, seseorang akan menjadi lebih rentan terhadap berbagai penyakit fisik. 

2. Dipenuhi oleh Rasa Bersalah dan Ketidakpuasan

Rasa gagal untuk memenuhi kebutuhan dari tanggungan mereka dapat membuat seseorang merasa gagal dalam mencapai sesuatu. Dikarenakan mental generasi sandwich yang telah terbentuk sedemikian rupa, sekalipun mereka telah mencapai karir yang cemerlang, generasi sandwich tidak akan pernah merasa puas. Hal ini ini disebabkan karena seorang generasi sandwich sudah ditanami oleh rasa takut akan kekurangan dalam aspek finansial. Oleh karena itu, mereka akan secara terus menerus bekerja lebih keras. Tentunya hal ini akan berdampak buruk pada kesehatan mental dan fisik mereka.

3. Sulit untuk Memiliki Tabungan Pribadi

Berdasarkan survey yang dilakukan oleh DataIndonesia.id, sebanyak 51,8% dari geni z mengaku menjadi generasi sandwich membuat mereka tidak bisa membagi keuangan mereka untuk ditabung. Tentunya hal ini dilatar belakangi oleh pengeluaran mereka yang lebih banyak dialokasikan untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang ditanggung. Resiko terbesarnya ialah berdampak buruk bagi masa depan generasi selanjutnya, dikarenakan tidak adanya dana darurat serta simpanan untuk masa depan nanti.

Cara Mengatur Keuangan Bagi Generasi Sandwich

1. Membuat Perencanaan Anggaran

Salah satu jalan keluar yang dapat dilakukan oleh generasi sandwich ialah melakukan perencanaan keuangan yang baik. Perencanaan yang dimaksud ialah melakukan pembagian atas penghasilan yang didapat. Metode yang dapat diterapkan untuk membagi penghasilan kalian ialah rumus 40-30-20-10. 40% dipakai untuk memenuhi kebutuhan, 30% untuk cicilan, 20% penghasilan dapat ditabung, serta 10% sisanya untuk bersedekah. Untuk pendapatan yang dialokasikan untuk cicilan, kalian dapat menggunakan platform cicilan yang terpercaya dan bunga minimal, salah satunya ialah Danakini. Dengan pengeluaran yang teratur, maka kalian dapat lebih hemat dan tentunya bijak dalam mengelola keuangan. 

2. Menyiapkan Dana Darurat dan Proteksi

Persiapan dana darurat ini berfungsi untuk menghadapi kejadian yang tidak terduga. Misalnya saja kebutuhan medis, kehilangan pekerjaan, perlindungan akan bencana, dan kebutuhan mendesak lainnya. Dana darurat ini dapat diperoleh dari sisa dana kebutuhan pokok atau dana yang didapat setelah kalian telah memenuhi kebutuhan utama seperti makanan, tagihan, transportasi, dll. Walau cukup berat, alangkah baiknya bila semua orang memiliki dana darurat, agar lebih siap untuk menghadapi situasi yang tidak diharapkan. Sehingga, pendanaan untuk kebutuhan lainnya pun tidak terganggu.

3. Mengelola Kebutuhan dan Keinginan dengan Bijak

Langkah selanjutnya ialah mengatur antara kebutuhan dan keinginan kalian dengan bijak, hal ini dapat dilakukan dengan membuat skala prioritas. Kalian dapat mengeliminasi pengeluaran apa saja yang sekiranya dianggap kurang penting. Dengan mengatur skala prioritas kalian juga bisa mendapatkan gambaran seberapa banyak bagian yang harus kalian penuhi dari setiap kebutuhan dan keinginan. Skala prioritas paling utama ialah kebutuhan pokok atau primer, baru selanjutnya kalian dapat memenuhi kebutuhan sekunder. Keinginan sendiri menjadi prioritas ketiga atau dapat kita sebut sebagai pelengkap bilamana kebutuhan telah terpenuhi. Tentunya untuk dapat tetap memenuhi kebutuhan dan keinginan dengan tetap hemat, kalian dapat melakukan pembayaran belanja kalian melalui Danakini, pastinya keuangan tetap bijak dan hemat.

4. Melakukan Investasi ketika Keuangan Sedang Baik

Bilamana keuangan sedang baik dan teratur, alangkah baiknya kalian melakukan investasi. Pastikan juga agar investasi yang dilakukan telah dipahami dengan baik beserta resikonya. Jika memang perlu, sisihkan pendapatan untuk investasi setiap bulannya. Jika dikelola dengan cermat, maka investasi pun akan dapat membantu dalam mencapai tujuan finansial kalian. Salah satu bentuk investasi yang sangat penting ialah dana pensiun. Hal ini dapat berguna untuk mencukupi kebutuhan kalian di masa tua mendatang, sehingga tidak menjadi tanggung jawab bagi anak cucu untuk memenuhi kebutuhan kalian. Tentunya hal ini menjadi langkah awal untuk memutus rantai generasi sandwich.

About Author

Monica Berliana

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *