July 1, 2022

Sahabat Danakini, krisis ekonomi Sri Lanka menjadi kabar yang menggemparkan dunia. Negara yang terletak di Asia Selatan ini gagal membayar utang luar negerinya senilai $51 miliar atau setara dengan Rp. 737 triliun. Krisis ekonomi ini menjadi krisis ekonomi terparah yang terjadi di negara tersebut setelah krisis 1948, saat negara berpenduduk 22 juta orang tersebut baru merdeka dari jajahan Inggris.

Krisis ini juga memicu amarah publik terhadap pemerintah serta menimbulkan kerusuhan di beberapa titik negara tersebut. Bahkan, Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa terpaksa mengumumkan status darurat pada Jumat 1 April 2022 sehari setelah ratusan orang yang marah mencoba menyerbu rumahnya karena krisis ekonomi yang belum pernah terjadi sebelumnya. 

Negara tersebut kekurangan bahan baku pokok yang sangat besar, ditambah kenaikan harga yang tajam, dan pemadaman listrik yang melumpuhkan. Perlu diketahui bahwa krisis ini merupakan efek bola salju yang mulai bergulir sejak awal pandemi COVID-19 yang memengaruhi sektor pariwisata dan keuangan di negara tersebut. Larangan impor yang luas diberlakukan untuk menghemat cadangan mata uang asing yang semakin menipis menjadi alasan besar kelangkaan barang-barang di Sri Lanka. Efek utang dari China yang diperuntukkan membangun infrastruktur seperti pelabuhan Hambantota juga dinilai sebagai langkah salah yang diambil pemerintah. Semua faktor-faktor ini melahirkan krisis ekonomi Sri Lanka saat ini.

Krisis Ekonomi Sri Lanka
Sumber: Photo by Hendrik Cornelissen on Unsplash

Mengapa Negara Bisa Bangkrut

Sahabat Danakini, Sri Lanka bukan satu-satunya negara yang “bangkrut”, Yunani, Venezuela, Zimbabwe, hingga Argentina menjadi contoh beberapa negara yang mengalami kebangkrutan dan menimbulkan krisis ekonomi yang sangat parah di negara-negara tersebut. Kebanyakan kebangkrutan ini muncul di era 2000-an.

Utang menjadi faktor terbesar yang membuat negara dapat bangkrut, kegagalan membayar dapat menimbulkan krisis ekonomi besar-besaran seperti yang terjadi di Sri Lanka. Pada kasus terparah seperti di Zimbabwe dan Venezuela, terjadi inflasi besar-besaran yang membuat harga mata uang di negara tersebut menurun drastis. Bahkan saking tidak berharganya, banyak masyarakat yang mulai menggunakan sistem barter. 

Sumber: Photo by Melinda Gimpel on Unsplash

Namun, tidak hanya hutang, kebijakan politik, korupsi, kelangkaan sumber daya, efek krisis ekonomi negara lain, krisis kesehatan, sampai bencana alam juga dapat menjadi faktor besar yang membentuk krisis ekonomi. Tidak ada satu alasan pasti mengapa negara bisa jatuh ke dalam krisis, kebanyakan krisis ekonomi lahir sebagai efek bola salju yang semakin membesar dipengaruhi oleh masalah-masalah yang terjadi di negara tersebut.

Konsekuensi terjadinya kebangkrutan pada suatu negara bisa berakibat sangat fatal, terutama bagi warganya. Naiknya tingkat kemiskinan, kekurangan sumber daya, perang, konflik fisik, kelaparan, dan banyak lagi. Bangkrutnya sebuah negara juga berefek besar pada ekonomi internasional yang saat ini saling bergantung satu sama lain.

Krisis Ekonomi Sri Lanka, Langkah Preventif yang Bisa diambil

Meskipun kelihatan sebagai masalah yang terlihat jauh, tetapi potensi terjadinya krisis ekonomi dan kebangkrutan di suatu negara sangat mungkin terjadi. Seperti yang sahabat Danakini ketahui, Indonesia sendiri juga pernah mengalami krisis ekonomi yang cukup besar seperti di tahun 1998, saat tingkat inflasi membengkak menimbulkan masalah-masalah lainnya. Meskipun potensi terjadinya kebangkrutan di Indonesia saat ini tidak mungkin terjadi, tetapi pemerintah harus mengambil langkah preventif karena krisis ibarat bola salju, semakin banyak berputar semakin besar dan semakin sulit untuk dihentikan. Jadi, langkah terbaik adalah menghentikannya saat masih berukuran kecil.

Nah, sahabat Danakini, berkaca dari krisis ekonomi Sri Lanka dan krisis-krisis ekonomi lainnya yang pernah terjadi di dunia. Utang menjadi salah satu faktor terbesar yang membuat negara bangkrut, kegagalan pembayaran utang dapat membuat negara dideklarasikan bangkrut. 

Sumber: Photo by Markus Winkler on Unsplash

Pemerintah Indonesia perlu berhati-hati dalam menerima pembiayaan utang. Jangan sampai bergantung utang seperti Sri Lanka yang membuat negara tersebut di dalam kebangkrutan. Indonesia sendiri memiliki utang luar negeri yang cukup besar, mengutip data Statistik Utang Luar Negeri Indonesia (SULNI) periode Februari 2022, China adalah pemberi utang terbesar keempat buat Indonesia, bersama dengan Singapura, Amerika Serikat (AS), dan Jepang. Total jumlah utang Indonesia mencapai angka $ 416,3 miliar.

Salah satu cara agar Indonesia tidak memiliki ketergantungan dengan utang adalah dengan mencari metode pembiayaan lain yang menawarkan bunga lebih rendah. Selain itu, pemerintah juga perlu menghemat belanja pegawai dan belanja anggaran agar lebih fokus menstimulasi sektor usaha kecil dan menengah serta digitalisasi perizinan. Juga untuk melindungi masyarakat, pemerintah juga perlu mendorong program sosial seperti edukasi, kesehatan, jaminan hari tua, dan lainnya. 

Tentunya munculnya krisis ekonomi Sri Lanka yang membuat negara tersebut berada dalam lubang kebangkrutan menjadi berita yang sangat mengejutkan dunia. Namun, situasi ini juga menjadi peringatan untuk negara-negara lainnya bahwa potensi terjadinya kebangkrutan pada suatu negara merupakan ancaman real dan sangat mungkin terjadi. 

About Author

Indakhila Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *