April 18, 2024

“Senin sampe Jumat udah capek kerja, gapapa lah sekali-sekali self-reward”, siapa nih yang sering mengucapkan kalimat penuh alasan tersebut ketika ingin membeli sesuatu?

Perbedaan Self Reward dan Impulsive Buying
Photo by Gustavo Fring: https://www.pexels.com/photo/happy-young-woman-with-shopping-bags-taking-selfie-4173116/

Istilah self-reward merujuk pada penghargaan yang diberikan kepada diri sendiri atas pencapaian atau kinerja yang telah diraih. Self-reward merupakan salah satu cara yang efektif untuk melepas stress dan mempertahankan produktivitas seseorang. Self-reward biasanya diisi dengan aktivitas yang menyenangkan seperti belanja, menonton, atau kegiatan hiburan lainnya. 

Meskipun berdampak positif bagi kondisi seseorang, self-reward seringkali disalahgunakan sebagai dasar untuk menghamburkan uang dalam melakukan impulsive buying. Impulsive buying merujuk pada perilaku membeli suatu barang atau jasa tanpa berpikir panjang dan perencanaan sebelumnya. Oleh karena itu, impulsive buying beresiko mengancam kondisi dan kestabilan keuangan seseorang. 

Sama-sama menyenangkan, lantas bagaimana cara membedakan self-reward yang impulsif dengan self-reward yang berdampak positif? Yuk simak perbedaannya pada artikel berikut ini!

Perbedaan Self Reward vs Impulsive Buying

Perbedaan Self Reward dan Impulsive Buying
Photo by Ksenia Chernaya: https://www.pexels.com/photo/woman-fixing-clothes-on-the-rack-3965548/
  1. Perencanaan

Perbedaan yang paling mencolok antara self-reward dengan impulsive buying adalah perencanaan. Self-reward yang berdampak positif mencakup adanya perencanaan yang jelas dengan budget yang telah dialokasikan. Sedangkan, impulsive buying merupakan sebuah perilaku secara tiba-tiba yang dilakukan diluar rencana keuangan yang telah dibuat.

Sebagai contoh, sebagai self-reward, seorang karyawan sudah mengalokasikan sebagian dari gajinya khusus untuk berbelanja di mall. Sehingga, proses belanja yang dilakukan disesuaikan dengan dana yang telah dialokasikan. Sedangkan, impulsive buying biasanya dilakukan tanpa perhitungan apapun berdasarkan keinginan sesaat yang timbul saat itu juga.

  1. Pertimbangan

Dasar pembelian barang atau jasa adalah kebutuhan, keinginan, dan hasrat. Ketika memberi self-reward melalui berbelanja, proses belanja dilakukan dengan hati-hati dan penuh pertimbangan sehingga tetap mengutamakan efisiensi keuangan. Sedangkan, impulsive buying didasarkan pada hasrat yang timbul secara tiba-tiba, sehingga rasanya harus dilakukan saat itu juga tanpa mempertimbangkan opsi lain dalam menjaga kondisi keuangan yang dimiliki.

  1. Pengendalian

Self-reward yang berdampak positif diikuti dengan perilaku yang terkontrol dan rasional. Dalam artian, pembelian dapat dibatasi sesuai dengan budget, kebutuhan, dan kepuasan. Sedangkan, impulsive buying berkedok self-reward cenderung tidak terkontrol dan tidak rasional. Terkesan harus dipenuhi walaupun terbatas secara budget, tidak memenuhi kebutuhan, dan hanya untuk kepuasan sesaat.

Cara menghindari impulsive buying

Photo by Tim Douglas : https://www.pexels.com/photo/happy-woman-jumping-with-shopping-bags-6567607/
  1. Membuat perencanaan dana yang matang

Adanya rencana anggaran yang jelas dan menetapkan batasan keuangan merupakan kunci utama dalam mencegah impulsive buying. Adanya alokasi dana yang pasti untuk tiap kebutuhan dapat meningkatkan kesadaran akan kondisi finansial, sehingga seseorang dapat lebih menahan diri ketika akan melakukan pembelian. 

Dengan demikian, sangat disarankan untuk menetapkan anggaran tetap khusus untuk self-reward atau hiburan setiap bulannya.

  1. Memahami tujuan keuangan

Kemudian, dalam menghindari perilaku impulsive buying, seseorang juga perlu memahami tujuan keuangan yang ingin dituju. Hal ini dapat dilakukan dengan menetapkan target keuangan untuk jangka panjang maupun jangka pendek. Adanya tujuan keuangan meningkatkan pemahaman akan kondisi keuangan masing-masing sehingga dapat menjadi pertimbangan ketika melakukan pembelian.

  1. Berpikir dua kali sebelum membeli

Tips yang perlu diingat ketika menghindari impulsive buying adalah selalu berpikir dua kali sebelum membeli sesuatu. Pertimbangkanlah opsi, kebutuhan, urgensi, dan tujuan pembelian yang dilakukan. Jika tidak terlalu butuh atau ada opsi yang lebih baik, maka hindarilah pembelian tersebut. Jangan sampai termakan hasrat sesaat sehingga terjerumus ke dalam impulsive buying.

About Author

Janice Lim

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *