August 12, 2022

Apakah Sahabat Danakini ingat dengan fenomena panic buying yang sempat terjadi di Indonesia selama pandemi COVID-19? Jika dijelaskan secara harafiah, panic buying berarti aktivitas berbelanja secara berlebihan yang didorong dengan rasa panik yang dialami. Fenomena ini seringkali disebabkan oleh situasi eksternal tak terduga yang membuat situasi menjadi genting dan menciptakan rasa panik di tengah masyarakat. 

Saat fenomena panic buying terjadi di Indonesia, ada beberapa produk yang menjadi incaran penyerbuan oleh masyarakat. Mereka berbondong-bondong ke supermarket dan apotek untuk membeli masker wajah, hand sanitizer, temulawak, dan susu beruang yang diketahui dapat meningkatkan kekebalan tubuh untuk menangkis virus COVID-19. 

Kenapa panic buying bisa terjadi?

Saat dihadapkan dengan kondisi genting seperti COVID-19, masyarakat cenderung akan mengalami gejolak emosional yang dapat mempengaruhi keputusan. Berikut adalah beberapa alasan psikologi di balik panic buying.

Masyarakat mengambil keputusan secara emosional

Ada dua cara berpikir yang biasa digunakan oleh seseorang saat mengambil keputusan, yaitu keputusan secara logis dan emosional. Saat seseorang menggunakan pikiran logis, mereka dapat dengan cermat berpikir sebelum mengambil keputusan. Dengan begitu, pemikir logis akan mempertimbangkan segala aspek dalam membeli kebutuhan barang saat COVID-19. 

Fenomena Panic Buying
Sumber Foto: Pexels / WeStarMoney

Hal ini berbeda dengan orang yang memiliki cara pikir emosional. Mereka bersifat intuitif, ingin cepat, dan tidak ada pertimbangan yang matang. Selain itu, orang yang berpikir emosional juga selaras dengan citra visual, dimana saat mereka melihat foto atau video orang memborong kebutuhan COVID-19, mereka secara emosional langsung ikut mengambil keputusan untuk ikut membeli karena ingin merasa aman, daripada menyesal kemudian. Hal inilah yang menjadikan fenomena panic buying terjadi.

Ketakutan itu menular

Ternyata tidak hanya virus atau penyakit saja yang dapat menular nih, Sahabat Danakini. Ketakutan atau kecemasan panic buying juga dapat menular ke orang yang melihat atau ada di sekitar kejadian. Saat ada satu orang yang melakukan panic buying, hal ini akan memicu orang lain untuk ikut melakukan hal serupa. Setelah itu, terbentuklah kelompok orang yang memiliki kepanikan sama dan menulari lebih banyak orang. 

Seringkali, panic buying ini tidak dilandasi alasan yang jelas dan cenderung hanya ketakutan semata. Padahal barang yang diborong tersebut belum tentu akan hilang karena COVID-19, karena masih diproduksi oleh produsen secara aktif.

Ingin merasa aman

Saat COVID-19 masuk ke Indonesia, banyak masyarakat yang melihat hal tersebut sebagai ancaman, bahkan sebagian orang sampai merasa frustasi. Mendengar penyebaran COVID-19 yang sangat cepat, membuat masyarakat diminta untuk mengurangi kegiatan di luar rumah dan meminimalisir bertemu orang banyak. Melihat ketidakpastian masa depan negara karena COVID-19, mereka menjadi merasa tidak aman.

Fenomena Panic Buying
Sumber Foto: MI / Daniel Munoz

Agar dapat mendapatkan rasa aman yang dibutuhkannya, banyak orang yang justru menjadi melakukan panic buying agar merasa dapat mengendalikan situasi di tengah COVID-19. Mereka berpikir dengan memiliki kebutuhan yang cukup untuk dirinya dan keluarga, mereka jadi dapat lebih siap menghadapi pandemi COVID-19.

Cara mencegah fenomena panic buying

Ada banyak efek yang diberikan dari fenomena panic buying, antara lain adalah rasa cemas yang semakin meluas ke lingkungan masyarakat, produk tertentu menjadi langka, pemborosan, kemungkinan produk membusuk, dan inflasi. Agar hal-hal ini tidak terjadi, ada beberapa cara yang Sahabat Danakini dapat lakukan guna mencegah panic buying.

Tetap tenang dan jangan terburu-buru

Melihat ada orang yang melakukan panic buying, Sahabat Danakini harus tetap tenang dan jangan terburu-buru mengambil keputusan. Cobalah lihat ke sekitar Anda, tanpa memborong barang pun, kebutuhan Anda akan tetap terpenuhi, kok! Kalaupun ada kalanya toko akan mengalami stok minim atau kehabisan, toko pasti akan terus melakukan proses distribusi agar mengisi ulang stok yang kosong. 

Fenomena Panic Buying
Sumber Foto: Pexels / Anna Tarazevich

Selain itu, agar tingkat kecemasan fenomena panic buying tidak semakin meluas, ajak keluarga dan lingkungan di sekitar Anda untuk melakukan hal serupa juga ya, Sahabat Danakini.

Buat daftar kebutuhan

Agar kebutuhan diri dan keluarga dapat terkontrol dengan baik, Sahabat Danakini bisa membuat daftar belanja dengan menuliskan segala keperluan yang dibutuhkan. Setelah itu, Anda dapat mengurutkannya sesuai dengan prioritas dan kepentingannya. Pastikan juga Anda memilih produk yang dapat disimpan untuk jangka panjang dan tidak cepat membusuk saat disimpan. 

Itulah penjelasan dan tips mengenai fenomena panic buying yang perlu diketahui oleh Sahabat Danakini. Semoga ke depannya kita terhindar dari pandemi dan tidak ada alasan untuk melakukan panic buying lagi, ya

Dapatkan aplikasi Danakini melalui Apps Store dan Play Store.

About Author

Jovita Christie

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *