April 13, 2024

Sahabat Danakini paradox of plenty atau sering disebut sebagai resources curse (kutukan sumber daya) adalah sebuah fenomena mengenai negara (atau daerah) yang memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah, tetapi negara tersebut justru memiliki perkembangan ekonomi yang rendah dibandingkan negara dengan sumber daya yang minim.

Hal ini menjadi bahan perbincangan yang menarik karena hal ini juga terjadi di Indonesia dan negara-negara lainnya yang memiliki sumber daya alam yang besar, terutama dalam SDA tak terbarukan seperti mineral dan minyak. Melansir data dari United Nation (PBB) mengenai klasifikasi negara, jumlah negara maju jumlahnya jauh lebih sedikit dibandingkan negara berkembang dan kebanyakan negara maju tersebut merupakan negara dengan sumber daya yang minim.

Contohnya seperti negara tetangga Indonesia Singapura yang luas negaranya lebih kecil dari kota Jakarta, tetapi dari tingkat Human Development Index (HDI) dan pemerataan ekonomi, Singapura jauh mengungguli Indonesia. Padahal jika dilihat dari luas daerah dan sumber daya, jelas Indonesia lebih unggul.

Fenomena banyak ditemui pada negara-negara berkembang lainnya seperti Afrika Selatan, Brazil, Mesir, dan lainnya. Sontak, muncul pertanyaan mengapa paradox of plenty bisa terjadi? 

Perdebatan Paradox of Plenty

Paradox of Plenty
Photo by Markus Spiske on Unsplash

Sahabat Danakini, istilah ini bukan suatu hal yang baru dan istilah ini pertama kali muncul 1950 – 1960 dalam banyak perdebatan publik mengenai negara dengan tingkat ekonomi yang rendah. Namun, fenomena ini pernah disinggung dalam sebuah tulisan tahun 1977 di The Spectator, di dalamnya tertulis “It is generally observed, that in countries of the greatest plenty there is the poorest living” atau berarti “Pengamatan umum menemukan bahwa di negara-negara dengan kekayaan terbesar, kehidupan termiskin ditemukan”

Banyak pengamat yang menilai fenomena ini seperti kasus pemenang lotre. Sama seperti paradox of plenty, banyak pemenang lotre yang justru tidak dapat memanfaatkan sumber kekayaan yang dipunya dan masalah complex yang muncul dari kemenangan tersebut. SDA yang ada dalam satu negara sama seperti hadiah lotre yang akan sia-sia jika tidak dimanfaatkan dengan baik oleh sumber daya manusianya.

Faktor Lahirnya Paradox of Plenty

Fenomena ini lahir karena banyak faktor. Masalah ini juga sangat complex, sehingga paradox of plenty di Indonesia dan di Brazil bisa timbul karena faktor yang berbeda. Namun, dipercaya bahwa SDA yang melimpah akan menimbulkan conflict of interest. Pemeran utama dalam konflik ini sering kali adalah pemerintah dan instansi berkepentingan lainnya. Konflik ini sendiri timbul karena keinginan masing-masing individu dan instansi untuk mendapatkan bagian dari kekayaan tersebut. Jika terjadi berkepanjangan hal ini akan membuat pihak-pihak tersebut enggan berbagi kekayaan dengan pihak lain yang membuat hasil SDA tidak tersebar secara maksimal.

Faktor Lainnya

Ada banyak faktor yang bisa memengaruhi intensitas dari fenomena ini. Sahabat Danakini, berikut merupakan beberapa faktor lainnya yang turut andil bagian menjadi pemeran dalam fenomena runyum ini.

Konflik 

Paradox of Plenty
Photo by GR Stocks on Unsplash

Tidak semua negara yang memiliki paradox of plenty adalah negara berkonflik, tetapi tidak dapat dipungkiri bahwa konflik memiliki andil yang membuat SDA tidak dapat diakses. Sebagai contohnya negara Afganistan dan Syria yang sedang dalam konflik aktif. Padahal kedua negara tersebut memiliki cadangan minyak yang besar, tetapi karena faktor tersebut membuat SDA tidak dapat dimanfaatkan.

Distribusi

SDA yang besar cenderung akan membuat orang serakah. Distribusi yang tidak merata tersebut juga melahirkan fenomena ini. Misalnya seperti pemerataan ekonomi Indonesia yang lebih terpusat atau Jawa Centric atau industri SDA seperti batu bara dan minyak kelapa sawit di Indonesia yang hanya dikuasai oleh segelintir orang saja.

Campur Tangan Negara Lain

Paradox of Plenty
Photo by Vladislav Klapin on Unsplash

Faktor ini lebih umum ditemukan saat era eksplorasi, saat negara-negara barat mulai menjelajah dan membentuk koloni di negara lain yang memiliki sumber daya yang besar. Meskipun begitu, kasus ini terjadi saat ini, tetapi faktor ini menjadi lebih complex dari sekadar negara lain yang menjajah dan mencuri SDA negara lain. 

Campur tangan negara lain ini juga termasuk dalam bentuk foreign aid, ketergantungan impor dan ekspor, dan lainnya. Ketergantungan dengan negara lain dapat membuat negara menjadi tidak mandiri dan sering kali negara yang memiliki niat “membantu” justru memiliki agenda tersendiri.

Nikmati ragam fasilitas finansial dari Danakini dengan mengunduh aplikasi Danakini melalui Apps Store dan Play Store.

About Author

Indakhila Putri

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *